Patah
Jemarimu,
Sentuhan mu aku ingat itu.
Tempat ternyaman hanya pada pelukanmu
Terbiasa dengan hadirmu aku bahagia..
Perlindungan terkuat itu genggamanmu.
Bertahun tahun aku hidup bersamanya.
Sampai bau badannya aku sangat hafal.
Dialah ibu..
Siapa yang tak kenal dengan sebutan itu?
Dialah yang mengandung dan melahirkan.
Entah berapa juta waktu yang tersita untuk membesarkanku.
Berapa triliun kasih sayang yang selalu diberikannya tulus.
Doa terampuh dalam setiap sujudnya.
Kadang bosan dengan ocehannya tapi juga rindu saat dia diam.
Begitupun dengannya.
Aku menjadi tempat berbagi untuknya untuknya
Canda,
Tawa,
Keluh kesah,
Semua aku tau.
Hanya saja aku tidak bisa,
Aku tidak bisa diam!
Dia bercerita hatinya luka
Dia mengatakannya,
Yaaa...
Dia mengatakannya padaku,
Aku patah!
Air mataku jatuh
Hatiku geram. .
Malaikatku terluka, hatinya hancur.
Marah, Benci!
Ingin sekali rasanya mencabik cabik mulut nakal itu.
Bukan itu caraku membalasnya
Tunggu aku, tunggu aku bu..
Tunggu aku menjadi apa yang bisa membuat mereka bungkam, diam, dan beku.
Aku bukan sekedar patah,
Bagaimana bisa malaikatku terluka
Sumber foto google : https://www.google.com/search?q=patah&hl=in-ID&source=android-browser&prmd=ivmn&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiuyYjr49TWAhUEUbwKHYOtD2AQ_AUIESgB&biw=360&bih=519

Komentar
Posting Komentar