Murid Baru
Hari pertama orientasi siswa/siswi SMPN1. Aku terburu buru jalan berdua bersama sahabatku juga parner ku yang tak lain adalah ibuku karena ibu mengantar aku ke sekolah. Ya, karena hari itu aku kesiangan dan ini bukan pekerjaan yang aku suka makanya aku tidak bersemangat . Hatiku masih tertinggak disana, di kota tangerang. Kami jalan sangat cepat seperti hal nya sedang lomba berlari tapi versi jalannya. Kebetulan sekolah ku tidak jauh dari rumah, banyak siswa/i yang sekolah disitu selalu lewat depan rumahku. Sepanjang jalan aku terus saja menggerutuk,
gimana kalo kesiangan? Ih nanti di omelin malu. Engga, gak bakalan di omelin nanti ibu yang bilang kalo di omelin. Jawab ibu
Eh eh a, panggil ibu kepada salah satu panitia orientasi jurusan,
Kebetulan kami memang sudah sampai gerbang sekolah kedua, setelah masuk gerbang pertama nanti ada gerbang kedua dan semua siswa/i baru sudah berbaris di lapangan.
Udah mulai ya? Tanya ibu kembali
Iya bu, silahkan langsung baris saja tidak apa apa. Jawab dia
Aku langsung baris di bagian belakang barisan putri yang kebetulan bersebelahan dengan barisan laki laki. Aku sengaja memilih baris di belakang karena supaya dekat dengan ibu, ibuku menungguku duduk tepat di belakang aku baris. Hanya dengan jarak 2 sampai 3 meter. Kebetulan sekolah itu memang sengaja di buat pagar pendek dari semen mengelilingi taman kecil di seluruh depan kelas, tujuannya memang untuk duduk. Aku dengan rok pendek selutut dan baju pendek yang di gulung ke atas dengan ciri khas sebagai pentolan sekolah waktu sd dulu, terlihat sangat sinis, kebetulan hari itu hari sabtu dan aku memakai seragam pramuka. mataku menyisir seluruh penjuru dalam barisan itu, tidak ada yang aku kenal satupun. Kemudian aku kembali melihat pada diri sendiri selayaknya seperti orang yang berkaca, hanya aku yang tidak menggunakan kerudung. Saat itu, aku seperti terpojokkan. Semua orang berbicara dan bercanda dengan temannya. Tidak ada yang mengajakku bicara, mungkin karena mereka takut atau karena mereka sungkan? Entahlah. Aku hanya bisa memanggil ibuku sebagai pertolongan agar mereka tahu bahwa aku juga tidak sendiri dan aku punya teman. Aku menengok ke belakang.
Ibu?
Bu? Ku panggil untuk kedua kalinya dengan suara pelan seperti berbisik agar tidak ketauan oleh panitia. Rupanya dengan jarak 3 meter dan suara speaker juga suara mereka yang ngobrol tidak membuat ibu mendengar suaraku.
Bu? Panggil ku kembali.
Apa? Jawab ibu.
Sini. Jawab aku sambil memelas seperti ingin menangis.
Gapapa, ibu disini aja. Orang deket juga. Jawab ibu lagi.
Iih, gumamku dalam hati.
MATAHARI sudah tepat berada di atas kepalaku, panas sekali.
Tak lama kemudian, pengarahan dilapangan selesai. Semua bubar dan menuju kelasnya masing masing, tadi memang sudah di umumkan masalah pembagian kelas untuk kelas 7. Semua panitia juga bubar, menyebar mengambil porsi tugasnya masing masing. Terlihat dari jauh kakak kakak tadi yang bertemu di gerbang menghampiri aku dan ibu.
Silahkan masuk kelasnya. Kata kakak kelas itu.
Kelas 7f dimana ya a? Tanya ibuku
Oh disana bu dekat lapangan bulu tangkis sambil menunjuk kearah kanan dari posisi aku berdiri. Ibu langsung mengantar ku ke kelas itu. Ternyata semua kursi barisan depan sudah penuh. Semua orang melihat ke arahku, seperti ingin menyapa tapi canggung karena mereka tau aku siswi pindahan dari kota. Itu menurut pandangan mereka, bagiku sih biasa aja. Aku juga sebenarnya ingin bergaul, hanya saja aku pemalu tidak seperti penampilan ku yang seperti pereman ini.
Neng. Boleh geser gak? Tanya ibuku kepada salah satu siswi. Namanya ida.
Oh iya bu. Jawabnya
Kemudian aku duduk di barisan paling depan sebelah kiri dari pintu. Ibu memang selalu bilang kalau aku harus duduk di depan. Kenapa? Karena kalau di belakang pasti tidak akan fokus, tidak terdengar dan pasti ngobrol dengan teman sebelah. Karena alasan itulah, semenjak aku tk aku selalu duduk di depan dan hasilnya aku selalu mendapat juara, meskipun bukan juara 1. Setidaknya aku selalu masuk 3 besar dan paling jauh masuk 5 besar hehe.
Hari ini, hari senin. Hari pertama aku masuk sekolah. Kenapa hari pertama? Karena sabtu kemarin bukan sekolah, cuma dengerin pengumuman. Meskipun tetap lokasinya di sekolah dan memakai seragam sekolah, tetap saja bukan hari pertama. Karena kemarin aku belum memakai tas dan sepatu baruku, maka dari itu aku katakan bahwa hari ini hari pertama aku sekolah. Sambil memakai sepatu di halaman rumah, ibu menyuapiku dengan penuh CINTA untuk sarapan sambil melihat pemandangan di depan rumah yang dilewati banyak anak sekolah.
Juana berangkat dulu assalamualaikum.. Kata aku kepada ibu.
Waalaikumsalam.. Jawab ibu.
Hari ini aku tidak berangkat diantar ibu, karena ternyata tetangga rumahku juga sekolah disitu dan sama sama baru kelas 7. Maklum aku kan pindahan jadi aku tidak tahu. Aku senang semua orang disini baik dan menyambutku dengan ketulusan. Termasuk kakak kemarin yang bertemu di gerbang sekolah, dia sangat baik untuk menjelaskan banyak hal. Dan asal kalian tau. Ternyata dia adalah ketua osis pada masa jabatannya.
Masa orientasi selama tiga hari sudah selesai.
Mulai dari hari pertama, pengenalan lingkungan sekolah, nama nama guru berserta jajarannya dan staf tu, pengenalan lab, dan pengenalan perpustakaan. Hari pertama kita cuma senang senang, bernyanyi, membuat yel yel tiap kelas untuk nanti di lombakan hari terkahir dan permainan.
Hari kedua, ada beberapa materi dari sebagian guru yang mungkin sudah dipilih untuk menjadi pemeteri. Tapi di dalam kelas bukan di aula, mungkin tujuannya supaya lebih kondusif. Ada satu guru yang sering di sebut abah toto, dari namanya seperti orang jawa tapi aslinya bukan. Katanya sih, abah toto itu terkenal galaknya, pokoknya galak. Saat aku mengetahui kalau pemateri selanjutnya beliau, seluruh tubuhku langsung lemas, jantungku berdetak tidak karuan, keringat bercucuran, tiba tiba panas dingin seperti orang sakit, terlebih saat abah toto masuk kelas ku dan membawa pisau.
Aduh CELAKA Perkataanku dalam hati
Apa yang akan beliau lakukan? Segalak galaknya guru tidak mungkin sampai membawa pisau ke dalam kelas. Masa kita akan di bunuh? Ditusuk? Dihukum pakai pisau jika salah? Pikiranku kacau. Aku langsung diam, duduk menghadap ke depan dengan posisi tegak dan tangan kanan aku simpan di atas tangan kiri sambil di lipat di atas meja. Mungkin ini caraku agar tidak terlihat salah di depan beliau supaya tidak kena marahnya. Semua teman di kelasku juga seperti itu, entah bagaiman posisi duduk mereka yang jelas suasana kelas berubah menjadi sunyi, aku tidak bisa melihat mereka karena aku duduk paling depan pas berhadapan dengan meja guru.
Coba neng maju. Perintah beliau sambil mengarah ke arah aku.
Mataku melebar, kaget. Pikiranku seketika kosong, aku tidak langsung maju, aku berfikir dalam hati beberapa detik. Apa salahku? Ya Tuhan, tidak sanggup. Badanku gemetar lemas seperti tidak punya tulang.
Saya pak? Tanya saya sebagai penjelasan dan berharap semoga bukan saya.
Iya kamu. Jawab beliau tegas.
Kemudian aku maju, dan berdiri tepat di hadapannya. Beliau memberikan pisau itu kepadaku, dan aku langsung memegangnya tanpa pikir panjang dengan tangan gemetar dan menyebut beberapa kali kalimat istigfar di dalam hati.
Coba, berikan pisau ini kepada bapak sebagai orang tua. Perintah beliau.
Kemudian aku mengembalikan pisau itu, dengan posisi besi pisaunya yang aku pegang dan menyodorkan gagang pisau itu dengan badan yang agak sedikit bungkuk agar sopan.
Ya bagus. Jawab beliau.
Hari ini, materi saya tentang tatakrama. Makanya saya sengaja membawa pisau dan langsung mempraktikannya. Kata beliau menjelaskan.
Ooooooooooooo.. Jawab semua siswa termasuk aku dengan suara lantang dan sambil mengehela napas panjang. Semua tertawa yang tadinya suasana tegang tiba tiba menjadi asik.
Silahkan duduk. Kata beliau.
Neng murid yang pindahan itu? Rumahnya dimana neng? Tanya beliau.
Iya pak. Jawab ku sambil senyum.
Rumah saya di kp. Raya. Jawabku
Oo, Banyak guru guru disini yang rumahnya di sana juga. Dekat dengan siapa rumahnya ? Bu nca? Bu tuti? Bu eem? Pak junaedi? Pak ari? Tanya beliau lagi.
Bukan pak,jawab ku.
Lalu? Dekat dengan siapa? Setau bapak cuma ada segitu guru smp disini yang rumahnya daerah sana. Tanya beliau lagi.
Itu loh pak, yang rumahnya di per empatan, siapa ya saya lupa. kebetulan rumah saya di depan rumahnya. Jawab ku lagi.
Pak junaedi? Tanya beliau semakin penasaran.
Bukan bapak. Jawabku lagi
Gus, bapaknya wawa siapa namanya? Tanyaku sambil menengok ke belakang, kebetulan dia memang satu kp denganku.
Pak edi, jawab agus.
Oiya pak, pak edi jawabku mempetegas.
Atuh iya neng gelis, itu namanya pak junaedi. Suka dipanggil pak edi kalau di rumah. Kalau di sekolah suka dipanggil pak junae. Jawab beliau sambil tertawa.
Hahahah suara teman teman yang ikut tertawa,
Haha aku jadi ikut tertawa tapi tertawa malu.
Hari terakhir orientasi, kami disuruh membawa kacang hijau sebanyak 2010 butir, dan seratus batang sapu lidi. Itu tugas om dan ibuku dirumah untuk menghitung jumlah kacang hijau yang barusan ibu beli di warung untuk aku bawa ke sekolah. Tradisi sekolah ini memang selalu membuat bubur kacang hijau pada hari terakhir orientasi, konon katanya cara pembuatannya dengan bumbu bumbu penyedap yaitu kaos kaki bau yang dimasak bersamaan dengan bubur kacang itu di aduk di dalam panci yang sangat besar. Semua siswa yang memakannya sambil oe oe seperti ingin muntah, tapi dipaksa makan oleh panitia, bahkan aku di paksa nambah oleh kak rina sebagai kakak pendamping kelas kami, dan oleh kak rega si ketua osis yang aku ceritakan tadi. Aku pura pura ikut ikutan oe oe saja, padahal dalam hati sih mana mungkin pakai kaos kaki, lagipula buburnya enak meskipun aku tidak terlalu suka bubur kacang. Aku sengaja ikutan oe oe biar kaya orang orang haha..
Setelah itu, ada beberapa penampilan yel yel dari masing masing kelas, yaitu berjumlah 7 kelas dari A-G. Dan di sambung dengan hiburan hiburan lain selanjutnya acara penutup dan pembagian hadiah untuk setiap perlombaan. Alhamdulillah kelas aku hampir mendapatkan semua perlombaan meskipun tidak selalu juara satu, isi hadiahnya cuma makanan, ciki ciki yang kita bawa dari pertama sampai terkahir, dibungkus rapi oleh panitia. Meskipun isinya tidak seberapa, tapi aku sangat senang.
Hari ini hari sabtu, disekolah baru ku ini setiap hari sabtu kita memang selalu olahraga bersama. Ada 3 macam olahraga yang sering kami lakukan yaitu jalan santai, senam skj, dan senam erobik. Kebetulan minggu ini waktunya senam skj, dilanjut dengan bersih bersih lingkungan sekolah dan menyiram tanaman agar tetap HDUP . Semua sudah selesai, waktunya cuci tangan. Di depan masing masing kelas, ada keran air yang di hias bagus lengkap dengan sabun cuci tangannya, wajar saja sekolah aku kan sekolah sehat dan juga sekolah hijau. Tiba tiba ada bu nca pegawai TU, kebetulan satu kampung dengan ku, beliau mau cuci tangan dan mengantri di belakangku.
Juana? Tanya bu nca
Iya bu. Jawabku
Nanti kalo pakai kerudung, pakai manset juga. Masa pakai kerudung lengan bajunya pendek. Jawab bu nca sambil senyum dan tertawa.
Emang ada bu? Jawabku polos.
Baju olahraga sekolah baruku belum ada, wajar saja namanya juga baru 1 minggu sekolah, kami masih memakai baju bekas sd. Dan semua seragam sd ku memang pendek dan semua tidak memakai kerudung. Di sekolah baru ini wajib memakai kerudung termasuk aku. Apa lagi kerudung yang digunakan harus kerudung segi-empat yang di ganjal dengan jarum pentul atau peniti di bagian lehernya. Hari pertama sekolah aku tidak memakai kerudung, tapi hari selanjutnya aku memakai kerudung karena wajib. Selama ini aku memakai kerudung dan baju lengan pendek, aku kira tidak apa apa tapi ternyata bu nca memperhatikan aku.
Atuh adalah, beli di pasar banyak. Jawab bu nca sambil menjelaskan apa yang dimaksud dengan manset.
Oh iya bu hehe jawabku sambil tersipu malu.
Beberapa hari berlalu dan aku lalui dengan gembira, meskipun sejujurnya kadang kadang aku selalu rindu suasan kota itu. Tapi disini aku menemukan beberapa bahasa baru yang menurut aku lucu. Salah satunya, saat aku sedang menagih uang kas kepada teman teman kelasku, ada salah satu temanku yang ngotot dan bilang iya iya nanti juga baray (teman temanku memang selalu berbicara bahasa Indonesia padaku, khawatir aku tidak mengerti jika menggunakan bahasa sunda dan memang kadang kadang aku kebingungan sendiri) Hampir semua bilang baray, awalnya aku hiraukan mungkin mereka salah ngomong. Tapi kali ini tidak, aku yakin ini bahasa daerah. Apa sih baray baray, cepetan bayar kataku menggunakan nada tinggi sambil sedikit membentak. Kebulan aku ditunjuk untuk menjadi bendahara, katanya karena aku tegas dan juga galak. Aku juga tidak tau mengapa aku seperti ini, aku memang sedikit tomboy tapi manja dan juga cengeng, soal kenapa aku selalu berani kepada orang yang mengganguku termasuk laki laki, itu karena aku punya jurus dan punya ilmu bela diri. Ya sejak sd aku memang mengikuti Taekwondo sampai sabuk hijau strip biru, tapi sayang di sekolah baruku tidak ada taekwondo, makanya tidak aku melanjutkannya. Padahal tinggal 5 kali ujian kenaikan sabuk aku akan mendapatkan sabuk hitam dan pasti di panggil sabem (panggilan guru kepada pelatihan taekwondo) ah sudahlah lupakan saja. Aku lanjut yaa ceritanya,
Baray itu apa sih? Tanyaku heran kepada temanku lia, baray itu artinya bayar. Jawab dia. Kok aneh sih, bayar kali jawabku lagi. Hahahah dia hanya menertawakanku.
Kalian tau hal yang paling membuat aku mengamuk dikelas apa? Aku benci pada dia. Ya dia teman laki laki di kelasku dia bernama abi. Mungkin maksudnya bercanda, biar seru atau apalah itu tapi yang jelas menurutku itu kampungan dan tidak lucu. Abi memang berbeda dengan laki laki lain, orang nya pecicilan dan suka menggangu perempuan di kelasku termasuk aku, ini bukan kali pertama nya dia melakukan ini padaku, dia berlari di dalam kelas sambil mendorong dorong kami yang sedang duduk, tangannya memang tidak pernah mau diam, tidak hanya itu saja, dia juga sering sekali memainkan mulutnya dan keluar ludah tapi tidak sampai keluar dan itu sangat menjijikan untukku. Dia selalu menarik kerudungku dari arah belakang, dia tidak pernah tau bagaiamana perjuangan ku menggunakan kerudung segi-empat ini, hampir disetiap lipatan kerudungnya ibu menjepitnya dengan jarum pentul, hawatir lepas karena ibu tau aku bukan tipe orang yang kalem dan pendiam, untuk bisa rapi seperti ini saja harus memakan waktu setengah jam memakainya. Tapi dia, si abi itu seenaknya saja menarik narik kerudungku, bukan hanya aku tapi yang lain juga pernah di perlakukan sama, kami hanya bisa diam dan menganggapnya becanda. Tapi tidak untuk hari itu, dia menarik kerudungku lagi sampi lepas, seperti yang aku jelaskan diatas aku cengeng. Ya saat itu aku menangis karena kerudungku lepas dan aku tidak bisa memakinya lagi, teman temanku membantuku memakainya lagi. Hawa marahku sudah memuncak, aku kumpulkan dari hari pertama dia seperti itu, tanpa pikir panjang aku seret dia ke depan kelas lebih tepatnya di pojok belakang pintu dekat papan tulis, aku tonjok dia dengan nafsuku yang tidak bisa aku kendalikan, Kupegang kerah bajunya sambil ku angkat ke atas, awalnya dia melawanku semua teman teman juga bersurak ayo ayo juana juana hajar aja hajar hajar, semua teman teman sekelasku mendukungku.
Jangan lu pikir gua cewek lu seenaknya sama gua hah. Lu pikir gua gak berani sama lu? Banci emang lu ya beraninya sama cewek doang, semua unek unek aku keluarkan tidak henti hentinya sambil menonjok seluruh badannya dengan lahap, muka abi sangat merah dan matanya menatapku penuh ketakutan, maaf maaf lalagaan doang maaf (maaf maaf cuma becanda) itu bahasa sunda. Semua teman teman ku yang tadinya berisik berteriak mendukung ku tiba tiba diam, mereka juga terlihat sangat ketakutan. Mungkin mereka tidak percaya kalau aku akan melakukan hal itu. Abipun tidak melakukan perlawanan kepadaku, karena setiap dia nyerang aku selalu berhasil menangkisnya.
Berani lu ya sama gua? Hah? Gua selama ini diem, di diemin tapi gak punya etika. Percuma lu sekolah kalo gak punya adab. Lanjutku dengan nada nyolot sambil nenonjok dia. Tangan dan mukanya sedikit BERDARAH dan memar. Maaf maaf moal maol deui kata dia (maaf tidak akan lagi) aku masih tetap memukulnya karena nafsuku belum puas, aku tidak takut siapapun termasuk guru karena aku tidak salah. kalaupun ada guru yang melihat, aku sudah menyiapkan beberapa pembuktian dan argumen yang logis dan kupastikan dia yang akan kena sanksi. Hawa marahku sudah mereda, kulepaskan kerah bajunya yang dari tadi masih aku pegang kemudian aku dorong dia. Awas lu ya. Itu adalah bentuk ancamanku kepadanya sambil menunjuk kearah mukanya yang ketakutan.
Tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Begitupun dengan tindakanku ini. Kalian setuju?
5 tahun kemudian.
1 pesan baru dari inbox pribadi ku.
Juana? Maafin abi kalo abi punya salah.
~THE END
gimana kalo kesiangan? Ih nanti di omelin malu. Engga, gak bakalan di omelin nanti ibu yang bilang kalo di omelin. Jawab ibu
Eh eh a, panggil ibu kepada salah satu panitia orientasi jurusan,
Kebetulan kami memang sudah sampai gerbang sekolah kedua, setelah masuk gerbang pertama nanti ada gerbang kedua dan semua siswa/i baru sudah berbaris di lapangan.
Udah mulai ya? Tanya ibu kembali
Iya bu, silahkan langsung baris saja tidak apa apa. Jawab dia
Aku langsung baris di bagian belakang barisan putri yang kebetulan bersebelahan dengan barisan laki laki. Aku sengaja memilih baris di belakang karena supaya dekat dengan ibu, ibuku menungguku duduk tepat di belakang aku baris. Hanya dengan jarak 2 sampai 3 meter. Kebetulan sekolah itu memang sengaja di buat pagar pendek dari semen mengelilingi taman kecil di seluruh depan kelas, tujuannya memang untuk duduk. Aku dengan rok pendek selutut dan baju pendek yang di gulung ke atas dengan ciri khas sebagai pentolan sekolah waktu sd dulu, terlihat sangat sinis, kebetulan hari itu hari sabtu dan aku memakai seragam pramuka. mataku menyisir seluruh penjuru dalam barisan itu, tidak ada yang aku kenal satupun. Kemudian aku kembali melihat pada diri sendiri selayaknya seperti orang yang berkaca, hanya aku yang tidak menggunakan kerudung. Saat itu, aku seperti terpojokkan. Semua orang berbicara dan bercanda dengan temannya. Tidak ada yang mengajakku bicara, mungkin karena mereka takut atau karena mereka sungkan? Entahlah. Aku hanya bisa memanggil ibuku sebagai pertolongan agar mereka tahu bahwa aku juga tidak sendiri dan aku punya teman. Aku menengok ke belakang.
Ibu?
Bu? Ku panggil untuk kedua kalinya dengan suara pelan seperti berbisik agar tidak ketauan oleh panitia. Rupanya dengan jarak 3 meter dan suara speaker juga suara mereka yang ngobrol tidak membuat ibu mendengar suaraku.
Bu? Panggil ku kembali.
Apa? Jawab ibu.
Sini. Jawab aku sambil memelas seperti ingin menangis.
Gapapa, ibu disini aja. Orang deket juga. Jawab ibu lagi.
Iih, gumamku dalam hati.
MATAHARI sudah tepat berada di atas kepalaku, panas sekali.
Tak lama kemudian, pengarahan dilapangan selesai. Semua bubar dan menuju kelasnya masing masing, tadi memang sudah di umumkan masalah pembagian kelas untuk kelas 7. Semua panitia juga bubar, menyebar mengambil porsi tugasnya masing masing. Terlihat dari jauh kakak kakak tadi yang bertemu di gerbang menghampiri aku dan ibu.
Silahkan masuk kelasnya. Kata kakak kelas itu.
Kelas 7f dimana ya a? Tanya ibuku
Oh disana bu dekat lapangan bulu tangkis sambil menunjuk kearah kanan dari posisi aku berdiri. Ibu langsung mengantar ku ke kelas itu. Ternyata semua kursi barisan depan sudah penuh. Semua orang melihat ke arahku, seperti ingin menyapa tapi canggung karena mereka tau aku siswi pindahan dari kota. Itu menurut pandangan mereka, bagiku sih biasa aja. Aku juga sebenarnya ingin bergaul, hanya saja aku pemalu tidak seperti penampilan ku yang seperti pereman ini.
Neng. Boleh geser gak? Tanya ibuku kepada salah satu siswi. Namanya ida.
Oh iya bu. Jawabnya
Kemudian aku duduk di barisan paling depan sebelah kiri dari pintu. Ibu memang selalu bilang kalau aku harus duduk di depan. Kenapa? Karena kalau di belakang pasti tidak akan fokus, tidak terdengar dan pasti ngobrol dengan teman sebelah. Karena alasan itulah, semenjak aku tk aku selalu duduk di depan dan hasilnya aku selalu mendapat juara, meskipun bukan juara 1. Setidaknya aku selalu masuk 3 besar dan paling jauh masuk 5 besar hehe.
Hari ini, hari senin. Hari pertama aku masuk sekolah. Kenapa hari pertama? Karena sabtu kemarin bukan sekolah, cuma dengerin pengumuman. Meskipun tetap lokasinya di sekolah dan memakai seragam sekolah, tetap saja bukan hari pertama. Karena kemarin aku belum memakai tas dan sepatu baruku, maka dari itu aku katakan bahwa hari ini hari pertama aku sekolah. Sambil memakai sepatu di halaman rumah, ibu menyuapiku dengan penuh CINTA untuk sarapan sambil melihat pemandangan di depan rumah yang dilewati banyak anak sekolah.
Juana berangkat dulu assalamualaikum.. Kata aku kepada ibu.
Waalaikumsalam.. Jawab ibu.
Hari ini aku tidak berangkat diantar ibu, karena ternyata tetangga rumahku juga sekolah disitu dan sama sama baru kelas 7. Maklum aku kan pindahan jadi aku tidak tahu. Aku senang semua orang disini baik dan menyambutku dengan ketulusan. Termasuk kakak kemarin yang bertemu di gerbang sekolah, dia sangat baik untuk menjelaskan banyak hal. Dan asal kalian tau. Ternyata dia adalah ketua osis pada masa jabatannya.
Masa orientasi selama tiga hari sudah selesai.
Mulai dari hari pertama, pengenalan lingkungan sekolah, nama nama guru berserta jajarannya dan staf tu, pengenalan lab, dan pengenalan perpustakaan. Hari pertama kita cuma senang senang, bernyanyi, membuat yel yel tiap kelas untuk nanti di lombakan hari terkahir dan permainan.
Hari kedua, ada beberapa materi dari sebagian guru yang mungkin sudah dipilih untuk menjadi pemeteri. Tapi di dalam kelas bukan di aula, mungkin tujuannya supaya lebih kondusif. Ada satu guru yang sering di sebut abah toto, dari namanya seperti orang jawa tapi aslinya bukan. Katanya sih, abah toto itu terkenal galaknya, pokoknya galak. Saat aku mengetahui kalau pemateri selanjutnya beliau, seluruh tubuhku langsung lemas, jantungku berdetak tidak karuan, keringat bercucuran, tiba tiba panas dingin seperti orang sakit, terlebih saat abah toto masuk kelas ku dan membawa pisau.
Aduh CELAKA Perkataanku dalam hati
Apa yang akan beliau lakukan? Segalak galaknya guru tidak mungkin sampai membawa pisau ke dalam kelas. Masa kita akan di bunuh? Ditusuk? Dihukum pakai pisau jika salah? Pikiranku kacau. Aku langsung diam, duduk menghadap ke depan dengan posisi tegak dan tangan kanan aku simpan di atas tangan kiri sambil di lipat di atas meja. Mungkin ini caraku agar tidak terlihat salah di depan beliau supaya tidak kena marahnya. Semua teman di kelasku juga seperti itu, entah bagaiman posisi duduk mereka yang jelas suasana kelas berubah menjadi sunyi, aku tidak bisa melihat mereka karena aku duduk paling depan pas berhadapan dengan meja guru.
Coba neng maju. Perintah beliau sambil mengarah ke arah aku.
Mataku melebar, kaget. Pikiranku seketika kosong, aku tidak langsung maju, aku berfikir dalam hati beberapa detik. Apa salahku? Ya Tuhan, tidak sanggup. Badanku gemetar lemas seperti tidak punya tulang.
Saya pak? Tanya saya sebagai penjelasan dan berharap semoga bukan saya.
Iya kamu. Jawab beliau tegas.
Kemudian aku maju, dan berdiri tepat di hadapannya. Beliau memberikan pisau itu kepadaku, dan aku langsung memegangnya tanpa pikir panjang dengan tangan gemetar dan menyebut beberapa kali kalimat istigfar di dalam hati.
Coba, berikan pisau ini kepada bapak sebagai orang tua. Perintah beliau.
Kemudian aku mengembalikan pisau itu, dengan posisi besi pisaunya yang aku pegang dan menyodorkan gagang pisau itu dengan badan yang agak sedikit bungkuk agar sopan.
Ya bagus. Jawab beliau.
Hari ini, materi saya tentang tatakrama. Makanya saya sengaja membawa pisau dan langsung mempraktikannya. Kata beliau menjelaskan.
Ooooooooooooo.. Jawab semua siswa termasuk aku dengan suara lantang dan sambil mengehela napas panjang. Semua tertawa yang tadinya suasana tegang tiba tiba menjadi asik.
Silahkan duduk. Kata beliau.
Neng murid yang pindahan itu? Rumahnya dimana neng? Tanya beliau.
Iya pak. Jawab ku sambil senyum.
Rumah saya di kp. Raya. Jawabku
Oo, Banyak guru guru disini yang rumahnya di sana juga. Dekat dengan siapa rumahnya ? Bu nca? Bu tuti? Bu eem? Pak junaedi? Pak ari? Tanya beliau lagi.
Bukan pak,jawab ku.
Lalu? Dekat dengan siapa? Setau bapak cuma ada segitu guru smp disini yang rumahnya daerah sana. Tanya beliau lagi.
Itu loh pak, yang rumahnya di per empatan, siapa ya saya lupa. kebetulan rumah saya di depan rumahnya. Jawab ku lagi.
Pak junaedi? Tanya beliau semakin penasaran.
Bukan bapak. Jawabku lagi
Gus, bapaknya wawa siapa namanya? Tanyaku sambil menengok ke belakang, kebetulan dia memang satu kp denganku.
Pak edi, jawab agus.
Oiya pak, pak edi jawabku mempetegas.
Atuh iya neng gelis, itu namanya pak junaedi. Suka dipanggil pak edi kalau di rumah. Kalau di sekolah suka dipanggil pak junae. Jawab beliau sambil tertawa.
Hahahah suara teman teman yang ikut tertawa,
Haha aku jadi ikut tertawa tapi tertawa malu.
Hari terakhir orientasi, kami disuruh membawa kacang hijau sebanyak 2010 butir, dan seratus batang sapu lidi. Itu tugas om dan ibuku dirumah untuk menghitung jumlah kacang hijau yang barusan ibu beli di warung untuk aku bawa ke sekolah. Tradisi sekolah ini memang selalu membuat bubur kacang hijau pada hari terakhir orientasi, konon katanya cara pembuatannya dengan bumbu bumbu penyedap yaitu kaos kaki bau yang dimasak bersamaan dengan bubur kacang itu di aduk di dalam panci yang sangat besar. Semua siswa yang memakannya sambil oe oe seperti ingin muntah, tapi dipaksa makan oleh panitia, bahkan aku di paksa nambah oleh kak rina sebagai kakak pendamping kelas kami, dan oleh kak rega si ketua osis yang aku ceritakan tadi. Aku pura pura ikut ikutan oe oe saja, padahal dalam hati sih mana mungkin pakai kaos kaki, lagipula buburnya enak meskipun aku tidak terlalu suka bubur kacang. Aku sengaja ikutan oe oe biar kaya orang orang haha..
Setelah itu, ada beberapa penampilan yel yel dari masing masing kelas, yaitu berjumlah 7 kelas dari A-G. Dan di sambung dengan hiburan hiburan lain selanjutnya acara penutup dan pembagian hadiah untuk setiap perlombaan. Alhamdulillah kelas aku hampir mendapatkan semua perlombaan meskipun tidak selalu juara satu, isi hadiahnya cuma makanan, ciki ciki yang kita bawa dari pertama sampai terkahir, dibungkus rapi oleh panitia. Meskipun isinya tidak seberapa, tapi aku sangat senang.
Hari ini hari sabtu, disekolah baru ku ini setiap hari sabtu kita memang selalu olahraga bersama. Ada 3 macam olahraga yang sering kami lakukan yaitu jalan santai, senam skj, dan senam erobik. Kebetulan minggu ini waktunya senam skj, dilanjut dengan bersih bersih lingkungan sekolah dan menyiram tanaman agar tetap HDUP . Semua sudah selesai, waktunya cuci tangan. Di depan masing masing kelas, ada keran air yang di hias bagus lengkap dengan sabun cuci tangannya, wajar saja sekolah aku kan sekolah sehat dan juga sekolah hijau. Tiba tiba ada bu nca pegawai TU, kebetulan satu kampung dengan ku, beliau mau cuci tangan dan mengantri di belakangku.
Juana? Tanya bu nca
Iya bu. Jawabku
Nanti kalo pakai kerudung, pakai manset juga. Masa pakai kerudung lengan bajunya pendek. Jawab bu nca sambil senyum dan tertawa.
Emang ada bu? Jawabku polos.
Baju olahraga sekolah baruku belum ada, wajar saja namanya juga baru 1 minggu sekolah, kami masih memakai baju bekas sd. Dan semua seragam sd ku memang pendek dan semua tidak memakai kerudung. Di sekolah baru ini wajib memakai kerudung termasuk aku. Apa lagi kerudung yang digunakan harus kerudung segi-empat yang di ganjal dengan jarum pentul atau peniti di bagian lehernya. Hari pertama sekolah aku tidak memakai kerudung, tapi hari selanjutnya aku memakai kerudung karena wajib. Selama ini aku memakai kerudung dan baju lengan pendek, aku kira tidak apa apa tapi ternyata bu nca memperhatikan aku.
Atuh adalah, beli di pasar banyak. Jawab bu nca sambil menjelaskan apa yang dimaksud dengan manset.
Oh iya bu hehe jawabku sambil tersipu malu.
Beberapa hari berlalu dan aku lalui dengan gembira, meskipun sejujurnya kadang kadang aku selalu rindu suasan kota itu. Tapi disini aku menemukan beberapa bahasa baru yang menurut aku lucu. Salah satunya, saat aku sedang menagih uang kas kepada teman teman kelasku, ada salah satu temanku yang ngotot dan bilang iya iya nanti juga baray (teman temanku memang selalu berbicara bahasa Indonesia padaku, khawatir aku tidak mengerti jika menggunakan bahasa sunda dan memang kadang kadang aku kebingungan sendiri) Hampir semua bilang baray, awalnya aku hiraukan mungkin mereka salah ngomong. Tapi kali ini tidak, aku yakin ini bahasa daerah. Apa sih baray baray, cepetan bayar kataku menggunakan nada tinggi sambil sedikit membentak. Kebulan aku ditunjuk untuk menjadi bendahara, katanya karena aku tegas dan juga galak. Aku juga tidak tau mengapa aku seperti ini, aku memang sedikit tomboy tapi manja dan juga cengeng, soal kenapa aku selalu berani kepada orang yang mengganguku termasuk laki laki, itu karena aku punya jurus dan punya ilmu bela diri. Ya sejak sd aku memang mengikuti Taekwondo sampai sabuk hijau strip biru, tapi sayang di sekolah baruku tidak ada taekwondo, makanya tidak aku melanjutkannya. Padahal tinggal 5 kali ujian kenaikan sabuk aku akan mendapatkan sabuk hitam dan pasti di panggil sabem (panggilan guru kepada pelatihan taekwondo) ah sudahlah lupakan saja. Aku lanjut yaa ceritanya,
Baray itu apa sih? Tanyaku heran kepada temanku lia, baray itu artinya bayar. Jawab dia. Kok aneh sih, bayar kali jawabku lagi. Hahahah dia hanya menertawakanku.
Kalian tau hal yang paling membuat aku mengamuk dikelas apa? Aku benci pada dia. Ya dia teman laki laki di kelasku dia bernama abi. Mungkin maksudnya bercanda, biar seru atau apalah itu tapi yang jelas menurutku itu kampungan dan tidak lucu. Abi memang berbeda dengan laki laki lain, orang nya pecicilan dan suka menggangu perempuan di kelasku termasuk aku, ini bukan kali pertama nya dia melakukan ini padaku, dia berlari di dalam kelas sambil mendorong dorong kami yang sedang duduk, tangannya memang tidak pernah mau diam, tidak hanya itu saja, dia juga sering sekali memainkan mulutnya dan keluar ludah tapi tidak sampai keluar dan itu sangat menjijikan untukku. Dia selalu menarik kerudungku dari arah belakang, dia tidak pernah tau bagaiamana perjuangan ku menggunakan kerudung segi-empat ini, hampir disetiap lipatan kerudungnya ibu menjepitnya dengan jarum pentul, hawatir lepas karena ibu tau aku bukan tipe orang yang kalem dan pendiam, untuk bisa rapi seperti ini saja harus memakan waktu setengah jam memakainya. Tapi dia, si abi itu seenaknya saja menarik narik kerudungku, bukan hanya aku tapi yang lain juga pernah di perlakukan sama, kami hanya bisa diam dan menganggapnya becanda. Tapi tidak untuk hari itu, dia menarik kerudungku lagi sampi lepas, seperti yang aku jelaskan diatas aku cengeng. Ya saat itu aku menangis karena kerudungku lepas dan aku tidak bisa memakinya lagi, teman temanku membantuku memakainya lagi. Hawa marahku sudah memuncak, aku kumpulkan dari hari pertama dia seperti itu, tanpa pikir panjang aku seret dia ke depan kelas lebih tepatnya di pojok belakang pintu dekat papan tulis, aku tonjok dia dengan nafsuku yang tidak bisa aku kendalikan, Kupegang kerah bajunya sambil ku angkat ke atas, awalnya dia melawanku semua teman teman juga bersurak ayo ayo juana juana hajar aja hajar hajar, semua teman teman sekelasku mendukungku.
Jangan lu pikir gua cewek lu seenaknya sama gua hah. Lu pikir gua gak berani sama lu? Banci emang lu ya beraninya sama cewek doang, semua unek unek aku keluarkan tidak henti hentinya sambil menonjok seluruh badannya dengan lahap, muka abi sangat merah dan matanya menatapku penuh ketakutan, maaf maaf lalagaan doang maaf (maaf maaf cuma becanda) itu bahasa sunda. Semua teman teman ku yang tadinya berisik berteriak mendukung ku tiba tiba diam, mereka juga terlihat sangat ketakutan. Mungkin mereka tidak percaya kalau aku akan melakukan hal itu. Abipun tidak melakukan perlawanan kepadaku, karena setiap dia nyerang aku selalu berhasil menangkisnya.
Berani lu ya sama gua? Hah? Gua selama ini diem, di diemin tapi gak punya etika. Percuma lu sekolah kalo gak punya adab. Lanjutku dengan nada nyolot sambil nenonjok dia. Tangan dan mukanya sedikit BERDARAH dan memar. Maaf maaf moal maol deui kata dia (maaf tidak akan lagi) aku masih tetap memukulnya karena nafsuku belum puas, aku tidak takut siapapun termasuk guru karena aku tidak salah. kalaupun ada guru yang melihat, aku sudah menyiapkan beberapa pembuktian dan argumen yang logis dan kupastikan dia yang akan kena sanksi. Hawa marahku sudah mereda, kulepaskan kerah bajunya yang dari tadi masih aku pegang kemudian aku dorong dia. Awas lu ya. Itu adalah bentuk ancamanku kepadanya sambil menunjuk kearah mukanya yang ketakutan.
Tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Begitupun dengan tindakanku ini. Kalian setuju?
5 tahun kemudian.
1 pesan baru dari inbox pribadi ku.
Juana? Maafin abi kalo abi punya salah.
~THE END
Wow jadi panjang begini ya dari empat kata, Krisannya japri aja deh :)
BalasHapusWow...masih disuapin ibu?
BalasHapusIya mba hehe soalnya kalo gak di suapin gak sarapan
HapusWow...masih disuapin ibu?
BalasHapusWow, asik banget ngembangin cerita nya 😁
BalasHapusAlhamdulillah mba masih tahap belajar hehe, berkat odop juga
Hapus