Ibu 24 jam
Malam ini.
Bersama hitamnya langit dan derasnya hujan.
Aku tuliskan puisi terindah untukmu.
Sikap mu yang sigap.
Jiwa mu yang penyayang.
Cara mu yang lembut.
Tutur katamu yang penuh cinta.
Dialah ibu.
Ibu 24 jam untukku.
Untuk ayahku juga adik.
Engkau adalah dokter sekaligus perawat pribadi.
Engkau bagaikan nada.
Indah, romantis dan penuh makna.
Dan engkau bagaikan senandung.
Yang selalu memberikan arti.
Senyummu takkan pernah terganti, meski menara Eiffel sebagai jaminannya. Maka tetaplah tersenyum untuku.
Kau tetap wanita terindah yang pernah aku lihat dan akan tetap indah, meski wajahmu sudah menua dan mengkerut. Namun kau tetap sempurna.
Dan kau adalah bukti dari baiknya Tuhan padaku.
Beruntungnya aku, ada darahmu yang mengalir pada tubuhku.
Bersama hitamnya langit dan derasnya hujan.
Aku tuliskan puisi terindah untukmu.
Sikap mu yang sigap.
Jiwa mu yang penyayang.
Cara mu yang lembut.
Tutur katamu yang penuh cinta.
Dialah ibu.
Ibu 24 jam untukku.
Untuk ayahku juga adik.
Engkau adalah dokter sekaligus perawat pribadi.
Engkau bagaikan nada.
Indah, romantis dan penuh makna.
Dan engkau bagaikan senandung.
Yang selalu memberikan arti.
Senyummu takkan pernah terganti, meski menara Eiffel sebagai jaminannya. Maka tetaplah tersenyum untuku.
Kau tetap wanita terindah yang pernah aku lihat dan akan tetap indah, meski wajahmu sudah menua dan mengkerut. Namun kau tetap sempurna.
Dan kau adalah bukti dari baiknya Tuhan padaku.
Beruntungnya aku, ada darahmu yang mengalir pada tubuhku.
Nice
BalasHapus