Aku dan secuil masalaluku

Namaku Yolan, tapi banyak yang panggil aku Tresa. Mungkin karena nama depan ku Tresa, ya Tresa Yolandini Juana Ratu. Sebuah nama yang panjang bak rel kerata api, ayahku yang memberikan aku nama sepanjang itu. Mungkin karena pada saat itu ayahku rindu kampung halamannya, dan mengingat rel kerta yang bisa mengantarkan nya pulang sampai desa.

Tepat 7 tahun yang lalu, aku bergegas pergi di antar ayah sekolah karena hari ini hari pertama aku ujian nasional, aku murid kelas 6 SDN Cirewed Tangerang, aku juga termasuk orang yang lumayan cerdas, ini bukan penilaian ku yaa hehe bukti dari nilai raporku yang memang lumayan bagus, aku selalu masuk 5 besar di kelas lumayan kan? Aku juga pernah menduduki juara 2. Tapi sayang untuk menduduki juara 1 itu sangat sulit, memang aku akui teman sebayaku itu lebih pintar dari aku.

Tidak Teresa rupanya sudah sampai gerbang sekolah. Aku pamit dan mencium tangan ayahku sebelum masuk kelas.
Aku mengerjakan semua soal dengan baik dan benar, aku sudah belajar mati matian demi nilai yang bagus karena aku sudah memiliki target melanjutkan sekolah smp di sekolah favorit yang aku idamankan kala itu. Karena untuk melanjutkan sekolah smp disini semua dilihat dari nilai akhir ujian nasional kita. Setelah semua berkas termasuk nilai sudah lolos sleksi, maka akan ada tahap selanjutnya.

Setiap pulang sekolah ibuku tidak pernah bosan menanyakan, bagaimana ujian hari ini? Aku dengan sigap menjawab, alhamdulillah lancar (pede) karena aku merasa belajar sungguh sungguh untuk ujian pertama dalam hidupku ini.

Hari ini adalah hari pengumuman hasil nilai ujian nasional 2010.
Jujur aku lupa saat itu bagaimana proses pengumumannya, yang jelas aku sangat kecewa saat mengetahui bahwa nilai yang aku peroleh jauh dari angan dan harapanku. Semua ini tidak sebanding dengan usaha dan kerja kerasku selama ini. Aku sangat kecewa, marah, kesal, tidak banyak yang bisa aku lakukan, siapa yang harus aku salahkan? Komputer? Sistem pemerintahan? Atau siapa? Mungkin hanya nangis yang bisa aku lakukakn saat itu, nangis sepanjang malam, sahabat sahabatku, ibuku, semua memelukku dengan begitu erat, mereka seakan merasakan apa yang aku rasakan. Kalian tahu berapa nilai ku saat itu? 3.27 ini nilai yang sangat buruk, jauh dari kata sempurna. Untuk masuk sekolah favorit saja tidak bisa,  minimal adalah 4.00. Kemudian apa yang membuat aku sangat marah pada saat itu? Banyak teman teman ku yang sehari harinya jauh tertinggal di belakng aku(bukan sombong) , bahkan teman aku yang sudah 2 tahun tidak naik kelas seharusnya menjadi kakak kelasku, namun sekarang menjadi teman sekelasku mendapatkan nilai yang sangat bagus nyaris sempurna, nilai cantik yang cukup untuk masuk ke sekolah favorit itu. Ini semua sangat tidak adil bagiku, mengapa semua harus dilihat pada nilai akhir saja? Mengapa tidak dilihat dari proses belajar selama ini?

"emang nya nilai yolan berapa? "
Alah (.............) jawabku

Itu pertanyaan yang sangat bodoh bagiku, bagaimana bisa seorang guru tidak tahu berapa nilai muridnya sendiri? Bukankah sebelum aku tahu bapak sudah lebih tahu? Spontan aku mengeluarkan kata kata yang tidak sopan di depan guruku itu, terlebih aku sangat sakit hati ketika beliau berkata

"ya sudah yang sabar ya, namanya juga ujian nasional, tergantung keberuntungan"

Motivasi macam apa itu? Usaha ku selama ini dinilai apa? Jika memang semua kembali pada keberuntungan? Rasanya gatal ingin mencakar apapun yang ada di depan mata, aku spontan kembali menendang mobil yang parkir tepat di samping ku saat aku berjalan, ternyata itu mobil salah satu guruku.

Aku menangis sepanjang jalan menuju rumah, ayah dan ibuku berusaha menenangkan hatiku. Kemudian ibuku bertanya, "terus sekarang mau lanjutin sekolah kemana? kalau ke smp 1 gak cukup nilainya, kan masih ada smp 2, smp 3. Semua sekolah sama aja bagus, atau mau ke rumah nenek aja?" sebelumnya ayahku memang pernah mempertanyakan soal kelanjutan sekolahku ini, beliau pernah berkata mungkin sekolah di rumah nenek lebih baik, pergaulan di desa juga lebih bisa di kendalikan daripada di kota seperti ini.
Tanpa pikir panjang, aku menjawab pindah ke rumah nenek aja (sambil terisak isak) aku lebih baik pergi jauh sekalian, karena aku merasa di sini semua mengkhianatiku.

Smpn 1 jiput.
Sekolah baru dengan suasana yang masih sejuk dan asri, wajar saja. Sekolah ini memang sudah memiliki standar nasional, sekolah adiwiyata juga sekolah sehat. Tidak kalah bagus dengan sekolah di kota, hanya saja lokasi nya di desa yang mungkin sering di pandang sebelah mata.
Hari pertama sekolah, ibuku mengantarkan aku ke sekolah. Semua sudah baris di lapangan, semua terlihat begitu asing, semua memaikai jilbab. Haha hanya aku yang menggunakan baju lengan pendek, rok pendek dan tanpa jilbab. Seketika semua mata tertuju padaku, aku malu. Tapi I'm muslim kok hehe..
Semua berjalan seperti biasa, meskipun hatiku masih tertinggal disana, aku sangat merindukan sosok sahabat sahabatku. 6 tahun persahabatan dengan mereka, tidak semudah itu di pisahkan oleh jarak.


Sekarang aku sedang duduk di bangku kuliah dan sudah berusia 20 tahun kurang 1 bulan :) semua perjalanan hidupku aku lalui di desa ini. Meski sesekali aku masih berlibur ke tangerang jika musim libur mendatang, wajar saja karena ayahku masih tetap kerja disana. Aku, ibu, ayah, dan adikku semua pisah rumah. Eit bukan berarti broken home ya :) mungkin ini adalah sebagian eposide cerita hidupku. Terimaksih yang sudah sempat membaca sampai akhir


Komentar

  1. Takdir tak pernah salah :) nice story Mbak yolan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali kak😊kadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Saya sangat bersyukur bisa terjebak dalam perjalanan yang memaksa saya untuk seperti ini

      Hapus
  2. Perantauan selalu berhasil mengajarkan banyak hal, tetap semangat kak, akan ada hal-hal tak terduga dibalik setiap peristiwa yang bisa kita ambil hikmahnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer